Minggu, 21 Mei 2017

Kritik Sastra - UAS

Kritik Sastra Objektif pada Cerpen Nek Selasih (Kucing Sabun)
 karya Ediruslan Pe Amanriza

Ediruslan Pe Amanriza adalah seorang cerpenis,  penyair, dan penulis yang berasal dari Bagan siapi- api, Riau.  Cerpen  Nek Selasih (Kucing sabun) adalah salah satu cerpennya yang diterbitkan dalam buku Renungkanlah Markasan Kumpulan Cerita Pendek oleh Dewan Kesenian Riau pada tahun 1997.  Cerpen ini juga pernah dimuat dalam majalah menyimak di  tahun 1992.
Cerpen Nek Selasih ( Kucing Sabun) seperti judulnya ceritanya pun menceritakan tokoh perempuan tua bernama Selasih dan kucingnya. Cerpen ini dikemas cukup baik oleh penulisnya.  Bahasa yang digunakan dan alur  cerita  membuat cerpen ini tidak sama seperti cerpen- cerpen biasanya. Untuk memahami cerpen ini dengan baik diperlukan pemahaman yang lebih karena alur cerita yang cukup rumit sehingga bagi  anak- anak yang membaca cerpen ini akan mengalami kesulitan. Di awal cerita tidak dijelaskan identitas si tokoh, penamaan si tokoh sebagai Selasih baru digunakan pada akhir cerita.  Di awal Selasih hanya disebut sebagai “ si perempuan tua ” tidak begitu jelas bahwa ia adalah Selasih yang menjadi tokoh utama pada cerpen ini. Seperti pada kutipan “perempuan tua itu menjadi serba salah”,  “jemaah pengiriman petang itu mengikuti kepergian perempuan tua itu”, “anak-anak perempuan tua itu tidak pernah menjenguknya”.  Pada beberapa paragraf terakhir barulah disebut nama Selasih,  pada kutipan “Nek Selasih masih duduk di beranda depan”, Namun terdapat kejanggalan karena tidak adanya paragraf atau kalimat yang menjelaskan perempuan tua tadi sebagai Nek Selasih. Nama Selasih tiba-tiba saja muncul pada paragraf selanjutnya sehingga cukup sulit untuk menganggap bahwa ia adalah perempuan tua yang diceritakan di awal cerita.

 Selain itu watak Selasih sendiri juga digambarkan cukup rumit.  Di awal cerita  ia adalah seorang perempuan tua yang tidak menghargai orang lain karena mencari kucingnya yang hilang di mesjid pada saat wirid berlangsung. “ Guru muda Nurdin baru saja akan memulai wiridnya,  ketika daun pintu terbanting keras”,  “seorang perempuan tua dengan rambut kasut masuk tergesa- gesa”, “ kemarin seluruh rumah tetangga telah digeledahnya”,  “kemudian terdengar lagi bantingan daun pintu.  Lebih keras dari yang pertama dan membuat jemaah semakin menggerutu”. Namun setelah itu Selasih juga memiliki watak yang baik,  “ setelah yang dicarinya tak tampak,  dia memandang orang ramai dengan tahapan menyesal”. “ia menjadi serba salah”,  “ dia menoleh guru Nurdin dengan tahapan memohon”. “maafkan saya Guru,  saya telah menunda wiridmu“. Selain itu Selasih juga memiliki watak yang penyayang kepada kucing,  “ aku terlambat memberinya makan siang”,  “aku akan mencarinya di tempat lain”,  “ya,  kucing sabun kesayangannya”. Guru Nurdin memiliki watak yang baik,  “jawab ustad Nurdin ramah”. Sedangkan jemaah memiliki watak yang beragam ada yang baik ada yang suka mengunjing,  “habis saya benar- benar muak dengan perempuan tua itu”,  “ah,  Ibu benar- benar keterlaluan.  Komentar salah seorang ibu yang selama pergunjingan tetap diam”,  “tapi pergunjingan itu untuk beberapa saat makin menjadi- jadi”.
Adapun tema dari cerpen ini adalah kesepian, terlihat pada kutipan “ Akan menjadi ramai juga rumah kita.  Tidak sepi sepanjang hari seperti ini.”, “suaminya yang sudah meninggal dan anak- anak perempuan itu yang tidak pernah menjenguknya”,  “kesepian benar-benar mencengkam perempuan tua itu”, hal itu menggambarkan bagaimana seorang perempuan tua yang hanya tinggal sebatang kara setelah anak laki- lakinya menikah dan suaminya meninggal.  Namun pembaca cukup sulit menemukan inti keseluruhan dari cerita ini. Karena cerita pada awalnya menggambarkan seorang perempuan tua yang memiliki kucing nakal yang membuat resah daerah sekitarnya dan membuat tetangganya menjadi kesal. Barulah tiba-tiba diceritakan Selasih yang sedang menyulam di depan rumahnya sambil teringat suaminya dan anak- anaknya.
Alur yang digunakan adalah alur maju,  namun seperti yang telah dibahas sebelumnya alur nya cukup membingungkan.  Karena tidak adanya koherensi antar paragraf pada salah satu paragrafnya. Jadi membuat pembaca harus memahami lebih bahwa terdapat hubungan pada paragraf tersebut.  Di awal menceritakan perempuan tua yang sibuk mencari kucingnya yang hilang,  namun setelah itu tiba- tiba nenek yang bernama Selasih yang sangat kesepian sedang duduk menyulam di depan rumahnya.  Padahal latar  waktu yang digunakan tidak begitu jauh,  “suatu jumat siang,  setelah ashar”, “menunggu wirid Guru Nurdin petang itu”, “ matahari hampir terbenam”. Jadi tidak diceritakan bahwa apakah ia telah menemukan kucingnya tersebut atau belum. Keadaan nenek Selasih yang sedang menyulam tiba-tiba saja muncul, sehingga pada bagian ini pembaca seakan akan masih cukup bingung.  Namun inilah ciri khas cerpen ini dimana alur yang rumit membuat kita diharuskan memiliki kemampuan yang baik dalam memahami setiap kata atau kalimatnya.  Kemudian latar tempat cerita cukup tersurat jadi tidak ada kesulitan, “di sebuah madrasah”,  “masih duduk di beranda depan”.  Sedangkan latar suasana digambarkan dengan kata-kata bermajas seperti “bagaikan mata pisau belati yang menikam jantungnya” kalimat tersebut menunjukkan bahwa suasananya yang menakutkan.  Selanjutnya  “ketika daun pintu tergantung keras.  Seluruh jemaah menoleh ke pintu,  lalu menggerutu” terlihat suasana yang gaduh.  Suasana yang sepi juga terlihat pada kutipan “melemparkan pandangan ke halaman dan jalanan yang mulai sepi”, “dia bangkit dan melangkah ke rumahnya yang gelap”.
Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, “Guru muda Nurdin baru saja akan memulai wiridnya”,  “seorang perempuan tua dengan rambut kusut masai masuk tergesa- gesa”,  “jemaah perwiridan petang itu mengikuti kepergian perempuan tua itu dengan pandangan kesal”.
            Dari segi bahasa yang digunakan pada cerita ini cukup bagus karena memuat majas- majas yang membuat kata- katanya semakin terlihat estetikanya.  Seperti pada kutipan “matanya jelatalatan menyapu ke segenap ruangan” terdapat majas personifikasi yang  menggambarkan bahwa ia melihat dengan sesama ruangan itu. “tatapan guru muda itu bagaikan mata pisau belati yang menikam jantungnya” terdapat majas asosiasi dan hiperbola yang   menggambarkan bahwa tatapan guru muda itu membuatnya takut.  “sekali- kali dia melemparkan pandangan ke halaman dan jalanan” terdapat majas personifikasi  yang  menggambarkan bahwa dia melihat ke halaman dan jalanan. “matahari sudah masuk ke perpaduan ufuk barat “ menggambarkan bahwa matahari sudah terbenam.  “cahaya merah yang tersisa di kaki langit sebelah barat itu pun makin sirna” terdapat majas metafora yang menggambarkan suasana pada petang itu.  “kesepian kini benar-benar mencengkam perempuan tua itu” menggambarkan begitu kesepiannya perempuan tua itu. 
            Amanat yang dapat kita ambil dari cerpen ini cukup banyak. “ketika daun pintu tiba- tiba  terbanting keras”,  “masuk tergesa- gesa”,  “kembali banting an daun pintu lebih keras dari yang pertama dan membuat jemaah makin menggerutu”, “kemarin seluruh rumah tetangga telah digeledahnya” dari kutipan tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa kesopanan dan saling menghargai haruslah dilakukan agar tidak ada masalah diantara kita. Namun kita juga haruslah menjadi orang yang bijak dalam memahami situasi dan kondisi orang lain.  Janganlah menilai orang lain dari luarnya saja.  Kita tidak tahu apakah ada sesuatu hal yang tidak kita mengerti.  Selain itu pelajaran yang tidak kalah pentingnya yaitu kehidupan dalam berubah tangga.  Anak haruslah menjadi pelindung dan penjaga orang tuanya dikala orang tuanya sudah tua.  Janganlah melupakan jasa- jasa mereka.  Karena bagi mereka anaknya adalah kebahagiannya.  Kesedihan mereka adalah dikala mereka merasa kesepian dan tidak ada anak disampingnya ketika di hari tuanya  “ ketika suaminya masih hidup hari- hari tua seperti ini mereka lalui dengan tak henti- henti ya menceritakan tentang anak- anak mereka yang jarang sekali pulang”, “mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka”, “tidak sepi sepanjang hari seperti ini”,  “kesepian kini benar-benar mencengkam perempuan tua itu”. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar