Kamis, 18 Mei 2017

Contoh Kritik Ekspresif

Puisi Kembalikan Indonesia Padaku

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan
Indonesia
padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan
Indonesia
padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan
Indonesia
padaku

Paris, 1971

            Puisi Kembalikan Indonesia Padaku merupakan salah satu puisi Taufik Ismail yang cukup menyita perhatian banyak orang. Kata- kata yang ada dalam puisinya sangat mencirikan kekhasan seorang Taufik  Ismail.  Kalimat “ kembalikan Indonesia Padaku” yang merupakan  judul dari puisi ini membuat kita para pembaca tersentuh hatinya.  Kalimat “kembalikan Indonesia padaku” juga diulang hingga tiga kali oleh Taufik Ismail dalam puisinya ini.  Dari kalimat tersebut kita dapat melihat bahwa terdapat harapan dan permohonan, atau permintaan untuk mengembalikan  negara Indonesia kepada si Aku.  Tak jauh berbeda dari puisi- puisi lain yang ia tulis,  kata “aku” juga terdapat pada puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia,  “Palestina Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu”,  dan masih banyak lainnya yang seakan akan si Aku adalah Taufik itu sendiri. Sehingga banyak puisinya yang berisi protes sosial yang ada kemudian ia curahkan dalam berbagai puisinya. Salah satunya adalah puisi Kembalikan Indonesia Padaku ini. 
Dari deretan puisi yang berulang-ulang di atas, pada dasarnya Indonesia yang digambarkan oleh Taufiq Ismail adalah Indonesia yang sedang “sekarat” dapat kita lihat  dengan penggunaan “kata tenggelam, mulut mengingat,  lampu menyala bergantian”
Dalam puisinya ini Taufik Ismail banyak menggunakan kata- kata perumpamaan yang sangat menyentuh hati para pembacanya.  Seperti pada bait pertamanya:
“Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
  Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian
  berwarna putih dan sebagian hitam,
   yang menyala bergantian,”
Bait di  atas mennggambarkan keadaan Indonesia yang terancam oleh kelaparan. Dua ratus juta merupakan angka kisaran jumlah penduduk Indonesia. Menganga adalah kondisi mulut yang terbuka dalam kondisi tidak berdaya. Sedangkan baris kedua menggambarkan  masa depan Indonesia yang suram, hanya diterangi oleh bola-bola lampu 15 wat. Bahkan kondisinya tidak semuanya menyala, hanya sebagian dan menyala bergantian. Hal ini menunujukkan bahwa kondisi Indonesia yang cukup memprihatinkan. .

“Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena
seratus juta penduduknya,”
Bait di atas menunjukkan bahwa masa depan Indonesia tidak jelas, dilempar ke kanan dan ke kiri. Bentuk bola bulat saja sulit ditebak arahnya, apalagi bola pingpong yang bentuknya lonjong, masa depan Indonesia akan sangat sulit di tebak ayahnya. Kemudian  kepadatan pulau jawa yang amat berat. Bait 1 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia adalah dua ratus juta jiwa, sementara setengahnya ada di pulau Jawa. Pulau jawa tidak akan sanggup menanggung beban kepadatan penduduknya. Pasti akan tenggelam karena tidak mampu menyediakan lahan bagi seluruh penduduknya
“Kembalikan
Indonesia
Padaku”
Bait di atas menunjukkan bahwa Indonesia masih belum dimiliki orang Indonesia. Tidak diatur dan dikuasai oleh orang yang berjiwa Indonesia yang dikenal ramah dan tahan banting.

“Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main ping pong siang
malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,”
Bait puisi di atas menunjukkan bahwa, orang yang bermain pingpong, orang yang mempermainkan kondisi Indonesia semakin banyak, satu juta orang. Kondisi semakin tidak jelas, semakin suram.

“Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan
tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa
berenang-renang di atasnya,”
Bait di atas menunukkan bahwa, lambat laun pulau Jawa tidak mampu menahan beban ekologi dan beban sosial penduduknya yang padat. Ketika orang jawa (orang pribumi) tenggelam bersama pulau jawa yang senang adalah angsa-angsa (orang kulit putih), orang luar negeri.

“Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat, sebagian putih
dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,”

Bait puisi di atas menggambarkan bahwa, kelaparan yang melanda Indonesia tidak dapat diatasi, bukannya mendapatkan asupan makanan yang mereka (rakyat Indonesia) justru kondisi karut-marut. Mereka hanya memakan informasi yang tidak jelas dan kondisi yang semakin terpuruk.

“Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenangrenang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,”
Bait puisi di atas menggambarkan bahwa, ketika pulau jawa yang menjadi tempat sebagain besar penduduknya semakin terpuruk bersama keburukan-keburukannya, orang asing (angsa putih) justru bersuka ria karena bisa berenang-renang sambil memainkan kondisi Indonesia, masih bermain ping pong.
Pada akhir bait puisi ini Taufik Ismail kembali mengulang kata “kembalikan Indonesia padaku” yang menggambarkan bahwa ketegasan dan permintaannya kembali. 
Secara umum puisi  di atas menggambarkan bahwa Indonesia sedang ‘dikuasai’ orang lain, bukan dikuasai orang Indonesia yang sebenarnya. Puisi di atas ditulis oleh Taufiq Ismail di Paris, Ibu kota Perancis pada tahun 1971. Tahun ini adalah tahun-tahun krusial yang menjadi titik bangkit bangsa Indonesia setelah geger politik dan kemanusiaan pada 1965-1966, tentu banyak orang bisa menyadari gejolak serta keadaan Indonesia pada masa itu yang masih belum stabil, salah satunya adalah Taufik Ismail sendiri. Terlebih jarak dari kemerdekaan serta berbagai hal yang terjadi setelah kemerdekaan yang masih membuat Indonesia diliput berbagai macam masalah.
  Seperti yang kita tahu  Taufiq Ismail adalah sastrawan kenamaan Inodnesia yang sudah berkarya sejak orde baru hingga orde reformasi. Karya-karyanya adalah puisi yang mengandung semangat nasionalisme, kritik terhadap keadaan, dan kritik sosial. Kembalikan Indonesia Padaku adalah salah satu puisinya yang berisi protes sosial terhadap keadaan yang ada di Indonesia selain puisi Malu (Aku)  Jadi Orang Indonesia, Kita Adalah Pemilik Sah Negeri Ini,  Indonesia Adalah Keranjang Sampah Nikotin, Kami Muak dan Bosan dan lainnya. 





           



.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar