Kritik Sastra Objektif pada Cerpen Nek Selasih (Kucing
Sabun)
karya Ediruslan
Pe Amanriza
Ediruslan Pe Amanriza
adalah seorang cerpenis, penyair, dan
penulis yang berasal dari Bagan siapi- api, Riau. Cerpen
Nek Selasih (Kucing sabun) adalah salah satu cerpennya yang diterbitkan
dalam buku Renungkanlah Markasan Kumpulan Cerita Pendek oleh Dewan Kesenian
Riau pada tahun 1997. Cerpen ini juga
pernah dimuat dalam majalah menyimak di
tahun 1992.
Cerpen Nek Selasih (
Kucing Sabun) seperti judulnya ceritanya pun menceritakan tokoh perempuan tua
bernama Selasih dan kucingnya. Cerpen ini dikemas cukup baik oleh
penulisnya. Bahasa yang digunakan dan
alur cerita membuat cerpen ini tidak sama seperti cerpen-
cerpen biasanya. Untuk memahami cerpen ini dengan baik diperlukan pemahaman
yang lebih karena alur cerita yang cukup rumit sehingga bagi anak- anak yang membaca cerpen ini akan
mengalami kesulitan. Di awal cerita tidak dijelaskan identitas si tokoh, penamaan
si tokoh sebagai Selasih baru digunakan pada akhir cerita. Di awal Selasih hanya disebut sebagai “ si
perempuan tua ” tidak begitu jelas bahwa ia adalah Selasih yang menjadi tokoh
utama pada cerpen ini. Seperti pada kutipan “perempuan tua itu menjadi serba salah”,
“jemaah pengiriman petang itu mengikuti kepergian perempuan tua itu”,
“anak-anak perempuan tua itu tidak pernah menjenguknya”. Pada beberapa paragraf terakhir barulah
disebut nama Selasih, pada kutipan “Nek Selasih masih duduk di beranda depan”, Namun
terdapat kejanggalan karena tidak adanya paragraf atau kalimat yang menjelaskan
perempuan tua tadi sebagai Nek Selasih. Nama Selasih tiba-tiba saja muncul pada
paragraf selanjutnya sehingga cukup sulit untuk menganggap bahwa ia adalah
perempuan tua yang diceritakan di awal cerita.
Selain itu watak Selasih sendiri juga
digambarkan cukup rumit. Di awal cerita ia adalah seorang perempuan tua yang tidak
menghargai orang lain karena mencari kucingnya yang hilang di mesjid pada saat wirid
berlangsung. “ Guru muda Nurdin baru saja
akan memulai wiridnya, ketika daun pintu
terbanting keras”, “seorang perempuan
tua dengan rambut kasut masuk tergesa- gesa”, “ kemarin seluruh rumah tetangga
telah digeledahnya”, “kemudian terdengar
lagi bantingan daun pintu. Lebih keras
dari yang pertama dan membuat jemaah semakin menggerutu”. Namun setelah itu
Selasih juga memiliki watak yang baik, “ setelah yang dicarinya tak tampak, dia memandang orang ramai dengan tahapan
menyesal”. “ia menjadi serba salah”, “
dia menoleh guru Nurdin dengan tahapan memohon”. “maafkan saya Guru, saya telah
menunda wiridmu“. Selain itu Selasih juga memiliki watak yang penyayang
kepada kucing, “ aku terlambat memberinya makan siang”,
“aku akan mencarinya di tempat lain”,
“ya, kucing sabun kesayangannya”.
Guru Nurdin memiliki watak yang baik, “jawab
ustad Nurdin ramah”. Sedangkan jemaah memiliki watak yang beragam ada yang
baik ada yang suka mengunjing, “habis saya benar- benar muak dengan
perempuan tua itu”, “ah, Ibu benar- benar keterlaluan. Komentar salah seorang ibu yang selama
pergunjingan tetap diam”, “tapi
pergunjingan itu untuk beberapa saat makin menjadi- jadi”.
Adapun tema dari cerpen
ini adalah kesepian, terlihat pada kutipan “
Akan menjadi ramai juga rumah kita.
Tidak sepi sepanjang hari seperti ini.”, “suaminya yang sudah meninggal
dan anak- anak perempuan itu yang tidak pernah menjenguknya”, “kesepian
benar-benar mencengkam perempuan tua itu”, hal itu menggambarkan bagaimana
seorang perempuan tua yang hanya tinggal sebatang kara setelah anak laki- lakinya
menikah dan suaminya meninggal. Namun
pembaca cukup sulit menemukan inti keseluruhan dari cerita ini. Karena cerita
pada awalnya menggambarkan seorang perempuan tua yang memiliki kucing nakal yang
membuat resah daerah sekitarnya dan membuat tetangganya menjadi kesal. Barulah tiba-tiba
diceritakan Selasih yang sedang menyulam di depan rumahnya sambil teringat
suaminya dan anak- anaknya.
Alur yang digunakan
adalah alur maju, namun seperti yang
telah dibahas sebelumnya alur nya cukup membingungkan. Karena tidak adanya koherensi antar paragraf
pada salah satu paragrafnya. Jadi membuat pembaca harus memahami lebih bahwa terdapat
hubungan pada paragraf tersebut. Di awal
menceritakan perempuan tua yang sibuk mencari kucingnya yang hilang, namun setelah itu tiba- tiba nenek yang bernama
Selasih yang sangat kesepian sedang duduk menyulam di depan rumahnya. Padahal latar
waktu yang digunakan tidak begitu jauh,
“suatu jumat siang, setelah ashar”, “menunggu wirid Guru Nurdin
petang itu”, “ matahari hampir terbenam”. Jadi tidak diceritakan bahwa
apakah ia telah menemukan kucingnya tersebut atau belum. Keadaan nenek Selasih
yang sedang menyulam tiba-tiba saja muncul, sehingga pada bagian ini pembaca
seakan akan masih cukup bingung. Namun
inilah ciri khas cerpen ini dimana alur yang rumit membuat kita diharuskan memiliki
kemampuan yang baik dalam memahami setiap kata atau kalimatnya. Kemudian latar tempat cerita cukup tersurat
jadi tidak ada kesulitan, “di sebuah
madrasah”, “masih duduk di beranda depan”.
Sedangkan latar suasana digambarkan dengan kata-kata bermajas seperti “bagaikan mata pisau belati yang menikam
jantungnya” kalimat tersebut menunjukkan bahwa suasananya yang
menakutkan. Selanjutnya “ketika
daun pintu tergantung keras. Seluruh
jemaah menoleh ke pintu, lalu
menggerutu” terlihat suasana yang gaduh.
Suasana yang sepi juga terlihat pada kutipan “melemparkan pandangan ke halaman dan jalanan yang mulai sepi”, “dia
bangkit dan melangkah ke rumahnya yang gelap”.
Penulis menggunakan sudut
pandang orang ketiga serba tahu, “Guru
muda Nurdin baru saja akan memulai wiridnya”,
“seorang perempuan tua dengan rambut kusut masai masuk tergesa-
gesa”, “jemaah perwiridan petang itu
mengikuti kepergian perempuan tua itu dengan pandangan kesal”.
Dari
segi bahasa yang digunakan pada cerita ini cukup bagus karena memuat majas-
majas yang membuat kata- katanya semakin terlihat estetikanya. Seperti pada kutipan “matanya jelatalatan menyapu ke segenap ruangan” terdapat majas
personifikasi yang menggambarkan bahwa ia melihat dengan
sesama ruangan itu. “tatapan guru muda
itu bagaikan mata pisau belati yang menikam jantungnya” terdapat majas
asosiasi dan hiperbola yang menggambarkan
bahwa tatapan guru muda itu membuatnya takut.
“sekali- kali dia melemparkan
pandangan ke halaman dan jalanan” terdapat majas personifikasi yang
menggambarkan
bahwa dia melihat ke halaman dan jalanan. “matahari
sudah masuk ke perpaduan ufuk barat “ menggambarkan bahwa matahari sudah
terbenam. “cahaya merah yang tersisa di kaki langit sebelah barat itu pun makin
sirna” terdapat majas metafora yang menggambarkan suasana pada petang
itu. “kesepian kini benar-benar mencengkam perempuan tua itu” menggambarkan
begitu kesepiannya perempuan tua itu.
Amanat
yang dapat kita ambil dari cerpen ini cukup banyak. “ketika daun pintu tiba- tiba
terbanting keras”, “masuk
tergesa- gesa”, “kembali banting an daun
pintu lebih keras dari yang pertama dan membuat jemaah makin menggerutu”, “kemarin
seluruh rumah tetangga telah digeledahnya” dari kutipan tersebut kita dapat
mengambil pelajaran bahwa kesopanan dan saling menghargai haruslah dilakukan
agar tidak ada masalah diantara kita. Namun kita juga haruslah menjadi orang
yang bijak dalam memahami situasi dan kondisi orang lain. Janganlah menilai orang lain dari luarnya
saja. Kita tidak tahu apakah ada sesuatu
hal yang tidak kita mengerti. Selain itu
pelajaran yang tidak kalah pentingnya yaitu kehidupan dalam berubah
tangga. Anak haruslah menjadi pelindung
dan penjaga orang tuanya dikala orang tuanya sudah tua. Janganlah melupakan jasa- jasa mereka. Karena bagi mereka anaknya adalah
kebahagiannya. Kesedihan mereka adalah
dikala mereka merasa kesepian dan tidak ada anak disampingnya ketika di hari
tuanya “ ketika suaminya masih hidup hari- hari tua seperti ini mereka lalui dengan
tak henti- henti ya menceritakan tentang anak- anak mereka yang jarang sekali
pulang”, “mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka”, “tidak sepi sepanjang
hari seperti ini”, “kesepian kini
benar-benar mencengkam perempuan tua itu”.